Mendaki ke Ranu Kumbolo dan Oro-Oro Ombo Semeru

Pendakian Perdana dari 2100 mdpl ke 2460 mdpl.

first for a lifetime.

because its there...


hai girls!
no matter who you are, please, go hike the mountain!
     saya memiliki hobi menikmati keindahan alam. tapi jangan bayangkan saya akan tahan disuruh mendaki gunung yang tinggi, menembus rawa, melewati semak berduri, bertemu binatang berbahaya di hutan. never crossed in my mind!
     punya stamina payah, karena hobi olahraga yang satu-satunya dilakoni secara rutin adalah renang atau lebih tepatnya dynamic apnea. selebihnya hanya jogging diantara mall dan toko buku di kota.
saya memiliki kekuatan terpendam yang hanya bisa keluar disaat sudah tak ada pilihan. masuk ke hutan kalimantan, sangat mengerikan bagi yang punya phobia pacet parah. jadi, keputusan untuk pergi mendaki ke Gunung Semeru adalah impian yang sudah lama tertunda bertahun-tahun dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk mewujudkannya.
5-9 April 2017 menjadi waktu bersejarah dalam hidup, karena pendakian perdana untuk menuju Semeru dimulai.
dari surabaya menuju Malang
5 april, mendarat cantik di Bandara Djuanda terminal 1. langsung menuju Stasiun Gubeng untuk ke Malang.
6 april, pagi di rental ooutdoor walau diwarnai insiden dibikin nyasar masuk ke 2 kampus gara-gara GPS!
     Jam 9 pagi saat packing, hati diliputi keraguan luar biasa karena tiba-tiba demam panggung untuk pendakian perdana. niat agar sampai ke Puncak Semeru ga kenceng-kenceng amat, hanya yakin bisa sampai Ranukumbolo saja sepertinya. tapi sudah terlambat untuk mundur, maju terus pantang masuk jurang.
pemandangan indah di sepanjang jalur Tumpang Menuju Ranu Pani
    Jalur malang ke tumpang juga tak luput dari nyasar akibat GPS. sumpah deh, emosi aja bawaannya. tapi emosi kudu ditahan karena daki gunung perlu energi ekstra. setelah mengisi perut di pasar Tumpang, saya berdua dengan Yudi melanjutkan perjalanan bermotor ke desa Ranupani. tak perlu diceritakan betapa nestapanya perjalanan pake motor matic dengan jalur tanjakan curam di Ranupani.
       Precaution buat para pendaki yang belum pernah ke Semeru dan berniat bawa motor apalagi pake motor matic. mending GA USAH ding, beneran! mending naik jeep atau truk sewaan deh, tinggal duduk cantik menikmati pemandangan sambil menghemat tenaga untuk pendakian. kecelakaan di jalur Gubuk Klakah hingga ke Ranupani didominasi oleh motor matic yang mesinnya berasap, rem blong kemudian masuk jurang. intinya jangan bawa motor yang ga kuat diajak tanjakan gunung yg sangat tinggi.
Kantor Polsek Ranu Pani dan Pos pendaftaran pendaki

Danau Ranu Pani

      Sampai di Ranu pani ketika tengah hari. kami langsung melakukan registrasi di pos pendakian di kantor polsek Ranupani. hampir satu jam lebih kami menunggu Simaksi diadakan. kami digabung dengan beberapa grup pendaki. yang paling sedikit grupnya cuma saya dan yudis. kami hanya berdua dan ditemani seorang porter. saya udah kecapean karena perjalanan sebelumnya membuat saya beberapa kali jalan kaki di tanjakan akibat motor yang tidak kuat naik.

gerbang Jalur Pendakian watu rejeng
     Walhasil, mending sewa jasa porter yang sampai Ranu Kumbolo PP sebesar Rp.400.000,- 2 hari. carrier ku dipacking ulang oleh yudi, kemudian diserahkan ke porter. setelah mendapat hampir 45 menit Simaksi oleh petugas Saverindo yang bernama Cak Yo, jam 03.00 sore kami memulai perjalanan bersama puluhan pendaki. kami melalui jalur pendakian konvensional yaitu Watu Rejeng. dari pintu gerbang jalur Watu Rejeng hingga ke Pos 1, sungguh tanjakan terus kaka... sempat di awal perjalanan Pak Porter yang Baik hati itu mengingatkan agar aku jangan terlalu cepat, santai saja jalannya katanya. hingga akhirnya beneran belum apa-apa aku udah ngos-ngosan. sampai ga enak hati melihat Pak Porter yang memanggul carrier berat mesti berhenti berkali-kali karena menunggu aku beristirahat. 
3/4 jalur di dominasi tanjakan... adek lelah Bang...

     Sepanjang perjalanan yang terbayang adalah ucapan Nyoth dan Mba Aji yang selalu mengingatkan agar beberapa waktu sebelum pendakian ada baiknya melakukan latihan jogging. haishhh... ini dah akibat ngeyel kalo dibilangin. tapi separah apapun tanjakan di depan, mesti maju walau mesti dengan kecepatan siput. jalan 10-15 meter, kemudian berhenti 10 detik untuk menarik napas dan lanjutkan perjalanan lagi. Pak Porter pun berpisah dari kami untuk melewati jalur khusus porter agar cepat sampai Ranu kumbolo dan memasang tenda kami. 
senyum, sapa, permisi

pos 1 yang berfasilitas warung gorengan dan api unggun untuk menghangatkan tubuh

Belum sampai Pos 1 saja sudah diguyur gerimis, jadilah pake jas hujan
      Kami banyak berpapasan dengan pendaki yang turun. setiap berpapasan senyum sapa selalu dilemparkan. indahnya proses pendakian itu ya. ketemu orang baru yang ramah dan baik hati. hujan gerimis pun turun menerpa kami. beruntung yudi membawa 2 jas hujan. kami pun memakai jas hujan sambil meneruskan perjalanan. tenaga sudah mau habis, baru sampai di pos 1 dengan iming-iming oleh Yudhi disana bakal ada gorengan, semangka dan minuman hangat. aku dan yudi beristirahat di bangku kayu. gorengan ada, aku lagi ga berselera makan, hanya ingin secangkir teh panas. setelah bertanya ke penjual gorengan ternyata tidak ada dijual teh hangat. hanya ditawari duduk dekat api unggun yang dibuat untuk mengusir hawa dingin bagi para pendaki yang kehujanan. setelah kurang lebih 10 menit berisitirahat, kami melanjutkan perjalanan menuju pos 2. 
     Wuihhhh tanjakannya makin mengerikan dan tiada berkesudahan. lanjut ajalah pokoknya...sungguh sabar seorang sahabat bernama Yudi yang menemaniku selama perjalanan pendakian perdana ku ini. kalo dia tipe orang egois aja, aku bakal dimarah-marahin, dan pastinya ku dah balik arah dan pulang ke pos Ranu Pani. dia selalu menguatkan dan terus memberi semangat dalam bentuk harapan palsu, bahwa sebentar lagi ada dataran, ada turunan, tanjakannya ga terlalu tinggi, diatas sana ada batang pohon untuk duduk istirahat dan seterusnya. waahahahaha... hasikk. 




Pos 2
      Tak terasa kegelapan mulai turun bersamaan senja menyelimuti seluruh jalur pendakian. saat itu, kami bersamaan dengan 5 anak pendaki yang berjalan dengan sangat pelan. rupanya diantara mereka ada yg mengalami cedera kaki, sehingga carrier besarnya mesti dioper ke temannya untuk di panggul bergantian. disitulah pertama kalinya kami berkenalan dengan Solehudin al ayubi cs. 5 anak pendaki dari Garut, jawa barat. bersama mereka, aku dan yudi sampai di pos 2. baju sudah terasa basah oleh keringat. kami sama-sama beristirahat meluruskan kaki. parahnya lagi, aku tak membawa headlamp. hanya yudi yg membawa headlamp. padahal saat itu kegelapan sudah menyelimuti seluruh jalur pendakian. kami bertujuh pun melanjutkan lagi perjalanan. aku dipinjami headlamp oleh mereka. kami membuat barisan dengan pembawa headlamp di depan, tengah dan belakang barisan. aku dan yudi disuruh berjalan paling depan karena jalanku sangat lambat. setiap aku berhenti, solehuddin cs pun ikut berhenti sambil bergantian mengoper 1 carrier yg dibawa bergiliran 4 orang. sungguh terharu melihat kesetiakawanan mereka terhadap teman yg memiliki keterbatasan.

Pos 3
     Malam semakin gelap pekat, hujan telah membuat jalanan semakin licin. tanjakan sepertinya makin curam dan tiada ampun. beberapa diantaranya hanya jalur selebar sebelah kaki dengan jurang menganga di sebelah kiri. banyak batang pohon dan ranting bergelantungan diatas kepala yang siap membuat kepala atau carrier tersangkut. belum lagi akar pohon atau batang tumbang serta batu yang menyembul di jalanan. beruntungnya kami kompak. yang berjalan di depan memperhatikan dengan seksama rintangan didepan sambil memperingatkan yang di belakang. begitu pula yg ditengah barisan mengingatkan yang berjalan dibelakangnya. akhirnya, sampai juga di pos 3 dengan tubuh sangat kelelahan dan kedinginan akibat kebasahan. di pos 3 aku sudah duduk berselunjur di sudut dinding pos. 
     Ampun dah, tubuh terasa ngilu karena kelelahan dan kedinginan. teman-teman menawariku coki-coki. mereka pun mulai mengeluarkan tranggia untuk membuat teh panas. aku sudah mengganti kaos tangan hiking dengan kaos tangan bulu-bulu wol manjaah demi mengusir dingin, tapi tetap saja tak mempan. jas hujan masih ku pakai karena gerimis masih turun. kaos kaki dan sepatu sudah basah karena hujan sedangkan baju dan jaketku basah karena keringat. dalam hati sudah memanjatkan doa semoga jangan kena hypothermia. beruntung dikantong celana sudah disiapkan obat2an. tolak angin udah habis 2 bungkus untuk menghangatkan badan. minyak telon sudah digosok berulang-ulang ke tangan dan badan. sayang sekali, lupa bawa salonpas untuk menghangatkan hidung. baru tau kalo hidung sudah ga bisa menghangatkan udara yang masuk saluran pernafasan berakibat sakit ke kepala. akhirnya setelah 5 menitan tersudut di pos, disodori teh panas tanpa rasa gula hahaha... 1 gelas bekas air mineral berisi teh digilir untuk minum bergantian. lumayan deh menambah kehangatan tubuh. yang lain udah merapat di sekitar tranggia kecil untuk menghangatkan diri sambil merebus air panas. 
     Di pos 3 segera setelah minum teh panas, kami pun melanjutkan perjalanan. ternyata tubuh merasa lebih baik saat perjalanan dilanjutkan daripada duduk diam di pos pendakian. perjalanan terasa lebih ringan karena medan mulai datar walau harus berhati-hati ada bekas longsoran. kami bertujuh berjalan beriringan sambil menyerukan keadaan jalan. satu jam kemudian kami pun melihat Ranu Kumbolo. sungguh hati merasa bahagia. itu artinya kami sudah hampir sampai. sejak pos 2 menuju pos 3,  pikiran sudah kacau karena merasa hampir tidak sanggup meneruskan perjalanan. di pos 3 menuju ke pos 4, langkah semakin cepat karena yang dibayangkan adalah tenda yang hangat, pakaian kering, moccachinno panas dan mie rebus panas.
pos 4 bagaikan oase ditengah padang pasir
Pos 4

      Sudah sampai di pos 4, kami berisitirahat sebentar kemudian melanjutkan perjalanan. dari pos 4 terlihat air Ranu Kumbolo telah menggenangi jalur lama. sehingga kami harus menyusuri satu satunya jalur yg jauh memutari lereng perbukitan di tepi Ranu Kumbolo. what ever lah, yang penting cepat sampai... langkah kaki pun terasa seperti melayang, mumpung jalur udah mulai turunan. namun satu turunan curam membuat kami ekstra hati-hati. teman-teman bergantian membimbingku untuk menuruni jalur tanah liat yang licin di dekat camping ground 1 di tepi Ranu Kumbolo. terlihat 2 tenda gelap tanpa lampu. kami pun melewatinya dalam kegelapan malam sekitar jam 07.30.
     Bukan hal yang mudah mencari jalur dari camping gound 1 menuju camping ground 2. kami harus melewati rumput yang sangat tinggi yang terendam genangan air hampir selutut. sekali lagi kami menaiki lereng bukit untuk mencapai camping ground 2 yang sulit terlihat. akhirnya setelah setengah jam, kami pun sampai di pondok Shelter camping ground Ranu Kumbolo dengan latar belakang Tanjakan cinta.
shelter 2 Ranu Kumbolo di dekat tanjakan cinta

      Begitu sampai di pos shelter, kami disambut bapak porter yang sudah memasangkan tenda di teras depan pos shelter. rupanya banyak pendaki yang menginap di dalam pos shelter yang luas. didalamnya terdapat dipan kayu yang luas untuk tidur berjamaah. banyak pendaki sudah memasak ransum makanan mereka di dalam ruangan. di teras depan ada tenda kami. di bangunan pos shelter yang lama juga ada tenda yang didirikan untuk berlindung dari hembusan angin
     Ucapan Syukur dalam hati tak henti-hentinya dipanjatkan kepada Allah SWT. akhirnya aku sampai di ketinggian 2400 meter diatas permukaan laut dengan dua kaki sendiri dan tentunya bantuan yudi dan solehudin al ayubi cs. Pak Porter pun langsung menyuruh aku dan yudi mengganti pakaian yang basah. beliau menyusun pakaian basah kami serta kaos kaki dan sepatu di atas dinding pagar shelter. tak lupa jas hujan kami di gantungkan di luar supaya basahnya berkurang. ketika aku sudah bertukar pakaian, Pak Porter dengan sigap merebuskan air panas dan menyiapkan teh dan moccachinno. beliau pun memasakkan mie rebus. kami menawari bapak untuk sama-sama makan. setelah makan, tubuh pun terasa nyaman. betah duduk didalam tenda daripada di luar yang dinginnya minta ampun.
     Setelah selesai makan, Pak porter merapikan peralatan makanan dan sampah logistik. kami pun mulai berisitirahat. sungguh hari yang luar biasa capeknya tapi pemandangan yang dilihat memang setimpal.  malam kian larut, dingin semakin menusuk. hidung pun tak mampu menahan dingin. kumat lagi sakit kepala parah lanjutan dari pos 3 tadi. padahal sudah pake sweater, ditambah ponco rajut, celana levis, kaos kaki, matras, sleeping bag, topi rajut dan sarung bali. kaki sudah dioles pake salep biar hangat dan tangan serta hidung sudah diolesi minyak telon. sepanjang malam susah tidur, sebentar bangun untuk memperbaiki posisi tidur sambil mendengar suara gemerisik binatang kecil yang berlarian diantara tenda pendaki.
Ranu Kumbolo sangat dingin sekali
      Jam 05.00 subuh pun tiba. sudah tak tahan ingin keluar tenda melakukan gerakan-gerakan agar tubuh bisa menghangat. baru keluar tenda, eh... masih gelap dan disambut rintik rintik hujan. wassalam...masuk tenda lebih aman hahaha. Jam 06.00 cahaya pagi mulai menerangi Ranu Kumbolo yang berselimut kabut dan awan. kami kurang beruntung karena cuaca mendung menutupi arah timur Ranu Kumbolo. kami tidak bisa menyaksikan Sun Rise di Ranu Kumbolo.
Sunrise Ranu Kumbolo yang tertutup kabut dan awan

after Sun Rise di Ranu Kumbolo

disini terdapat tanaman invasif Verbena

disini juga banyak photo both alami dengan background semak bunga-bungaan
     Hari beranjak terang kecantikan danau Ranu Kumbolo terpancar. sungguh pemandangan spektakuler deh. awan dan kabut datang silih berganti. suara angin berderu di kejauhan. permukaan danau sangat tenang laksana cermin. semua pendaki mulai keluar dari persemayamannya.  semua asyik mengobrol dan berfoto ria di tepi danau. kami bertujuh sudah asik dengan kegiatan foto-foto. 
shelter baru dan shelter lama

hanya sedikit yang mendirikan tenda di tengah camping ground Ranu Kumbolo

taman bunga yang sengaja dibuat untuk foto

jangan lewatkan kesempatan berfoto disini

sumber air dekat dan masih sangat bersih

tanjakan cinta

     Setelah puas berfoto-foto di tepi ranu kumbolo, aku dan yudi mencari jalur yang diberitahukan oleh petugas Saverindo untuk menuju Oro Oro Ombo tanpa melalui tanjakan cinta. ternyata jalur setapak itu berada di dekat pos shelter arah utara ranu kumbolo. jalurnya menanjak tapi cukup landai sehingga tidak terlalu menguras tenaga. jalan setapak itu indah sekali karena dipenuhi semak bunga edelweiss yang banyak bermekaran. rupanya ada pendaki yang ikut tertarik mengikuti jalur kami. dia mengenalkan diri sebagai azis dari bandung. azis baru pertama kali ke Semeru sama seperti kami. dia lebih sering mendaki di gunung-gunung jawa barat. kami bertiga berfoto bergantian diantara semak edelweiss. setelah puas mengobrol dan berfoto, azis meminta izin untuk berpisah karena dia dan teman-temannya akan melanjutkan perjalanan ke kalimati. 



 







 

     Aku dan yudi menelusuri jalan setapak sambil menikmati pemandangan indah. jalurnya landai dan pemandangannya sangat indah. bagi pendaki yang lagi ga ada target pencapaian menuju puncak, mending lewat sini sih daripada melewati tanjakan cinta yang lumayan bikin nafas berantakan. kami berdua sampai di puncak tanjakan cinta kami beristirahat sambil mengobrol dengan pendaki lain yang sedang menggantung hammock sambil foto-foto. yudi berkenalan dengan 2 pendaki cowo tersebut. mereka datang dari makassar. yudi pun memanfaatkan kesempatan ikutan berfoto sambil berayun di hammock dengan view tanjakan cinta dan ranu kumbolo. 



     Setelah yudi puas berfoto, kami melanjutkan trekking menuju Oro-oro ombo. jalurnya wow, licin sekali karena sehabis hujan. bikin nafas berantakan juga karena tanjakannya curam. tapi setelah sampai di atas puncak tanjakan cinta... kami pun disambut dengan pemandangan spektakuler oro-oro ombo. lembah indah yang didominasi warna hijau pepohonan dan savana serta bunga Verbena Ungu. 







     Awan berarak dihembus angin yang berderu kencang. cuma bisa berucap syukur dalam hati, terima kasih kepada Allah SWT telah membimbingku kemari dan memperlihatkan keindahan ciptaan-NYA. kami menelusuri jalur setapak yang menyisiri tepian padang bunga Verbena. kami berpapasan dengan beberapa pendaki, kami pun saling lempar senyum dan sapa. setelah sampai di tengah jalur setapak yang membelah hamparan bunga Verbena ungu, kesempatan berfoto tak kami sia-siakan. langsung jeprat jepret disana kemari, pake kamera digital yudi dan HP kami masing-masing. setelah didekati ternyata tumbuhan Verbena cukup tinggi mencapai sekepala. 












     Setelah puas berfoto, berdiam menikmati kesunyian Oro-oro ombo adalah hal yang menghapus segala kelelahan saat pendakian. enggan rasanya pulang. tapi apa mau dikata, mendekati jam 11.00 kami harus segera kembali ke Ranu Kumbolo untuk packing dan bersiap pulang. kami turun melewati tanjakan cinta. banyak pendaki yang menaiki tanjakan cinta untuk menuju kalimati dan kemudian summit. diantaranya ada yang menjalankan ritual mendaki tanpa melihat kebelakang. ada yang terengah-engah di tengah tanjakan, ada juga yang bersandar ke pohon sambil melepas lelah. kami menuruni tanjakan dengan sangat berhati-hati. tanjakan licin sehabis terguyur hujan. kami menginjak rerumputan sambil berpegangan di semak agar tidak tergelincir. sesekali kami berhenti melepas lelah dan duduk di rerumputan sambil mengabadikan foto Ranu Kumbolo dari tanjakan cinta. 



     Akhirnya sampai juga dibawah tanjakan dengan selamat. lain kali view jalur alternatif selain tanjakan cinta lebih asyik untuk dilalui karena sangat aman dengan view yang indah meski memakan waktu yg lebih lama. begitu sampai shelter, kami sudah ditunggu porter dan kami pun sepakat bersiap pulang. dengan sigap Pak porter menyusun semua peralatan. tenda dilipat, peralatan masak, sampah, dan pakaian kotor sudah dimasukkan ke carrier. kami pun berpisah dengan Pak Porter yang membawa carrier ku. beliau melewati jalur khusus porter bersama temannya 1 orang yang juga sedang membawa tas pendaki.


     Aku dan yudi melanjutkan menyisiri tepian Ranu Kumbolo dan pos Shelter di dekat Pos 4. melewati tanjakan curam, yang tinggi dan sangat licin. terbersit rasa tak percaya kalo tanjakan ini bisa aku turunin sambil di kegelapan malam. mantab jiwaaaaaa. ya amfun...setengah mati naiknya, sambil dikawal naik oleh yudi, akhirnya sampai juga jalur datar mendekati pos 4. sampai di pos 4, kami berfoto sebentar dengan latar belakang Ranu Kumbolo dan pohon edelweiss yang cukup tinggi dan berbunga banyak. perjalanan dilanjutkan menuju pos 3. jalanan asyik karena didominasi dataran dan sedikit tanjakan. cihuyyyy... perjalanan sangat menyenangkan tidak seperti saat pendakian pertama. 





     Dari pos 4 ke pos 3 tidak terasa lama. kami singgah berisitirahat di pos 3. pos dengan kenangan memilukan hampir hypothermia gegara kelelahan dan kehujanan sepanjang jalan.sepanjang jalan kami sempatkan berfoto ria. kami bergantian berfoto serta tak luput segala tumbuhan unik di jalur pendakian juga kami foto. 
     Sebelum mencapai pos 3, kami dicegat seorang pendaki cowo yang seperti dikejar-kejar setan sambil menangis tersedu-sedu. dia bertanya kepada kami berdua apakah kami bisa menyembuhkan temannya yang sedang kesurupan. embuwhhh...aku dan yudi sama sekali tidak memiliki bakat menyembuhkan kesurupan. kami tanya lebih jelas kejadiannya seperti apa. ternyata dia bersama teman-temannya dari kalimati menuju Ranu Kumbolo untuk pulang ke Ranu pani. temannya yang cewek ada yang menunjukkan keanehan. badannya dingin dan mulai berbicara aneh. perjalanan masih bisa mereka teruskan hingga ke Pos SHelter Ranu Kumbolo. mereka beristirahat sejenak kemudian kembali melanjutkan perjalanan. begitu di pos 4 temannya yang cewek itu sudah tidak sadarkan diri. jadilah teman-temannya menunggu di pos 4 dan si cowok disuruh berlari turun ke pos untuk minta bantuan. kami orang pertama yang ditemuinya di perjalanan turun.
     Seingatku saat pendakian kemarin, pos 1 ada penduduk lokal yang berjualan dan beberapa orang yang memakai kaos komunitas rescue. jadi kami berdua menyarankan si cowok agar turun saja ke pos 1 dan berharap semoga ada yang bisa membantu. kami berdua tidak bisa membantu dan juga porterku yang bisa turun secepatnya ke Ranu pani melewati jalur yang berbeda dengan kami. kami pun berpisah dengan pendaki cowok tersebut. aku benar-benar khawatir, turun gunung dengan cara berlari seperti beresiko jatuh ke jurang jika tidak hati-hati. semoga di perjalanan nanti, kami tidak menemukan dia terjatuh di jurang, amin.
penanda jalur watu rejeng

pos 2

     Tiba di pos 2, ternyata ada ibu-ibu penduduk lokal yang sedang menyalakan perapian dan membuka warung gorengan. hal yang membahagiakan karena sehari sebelumnya masih belum ada. kami pun berisitirahat. yudi membeli gorengan ibu dan aku makan coklat sambil melepas dahaga. kami bertanya kepada ibu apakah ada pendaki cowok yang seperti sedang berlari singgah di warung ibu, ternyata ibunya bilang ada. syukurlah ... tapi si ibu bilang juga tidak bisa membantu. sepengetahuannya didaerah sekitar sini tidak ada yang bisa menyembuhkan kesurupan.



       Setelah bercakap-cakap, kami pun pamit kepada ibu penjual horengan untuk melanjutkan perjalanan ke pos 1. disini jalur nya lumayan jauh. lebih jauh daripada antar jalur pos 3 ke pos 2. berhubung jalur disini saat berangkat banyak tanjakan, setelah perjalanan pulang jadinya banyak turunan, yihhaaaa...asek aseek josss... kami jarang berhenti. sesekali aku mendengar lantunan tembang jawa selama berjalan. pikirku ada penduduk lokal yang sedang berkebun sambil menyetel musik. walaupun melihat di sekitar jalur tidak ada kebun dan pondok warga. ku usir pikiran menakutkan, sambil membaca zikir, ayat kursi dan surah almuwizzatain(al-ikhlas, Al-Falaq dan An-nas) agar setan yang menyebabkan pendaki kesurupan tidak mengganggu kami. parno gapapa, daripada beneran kesurupan, masa' salah satu dari kami mesti sprint turun gunung minta pertolongan, minta ampun dah.


     Oke sip, jalan-jalan santai menikmati turunan hingga tak terasa sudah sampai di Pos 1. di pos 1 ada beberapa pendaki yang sepertinya berasal dari malaysia. mereka memakai baju komunitas. ada penduduk lokal yang juga menawarkan gorengan dan semangka. aku sama sekali ga berminat untuk makan, hanya ingin minum melepas dahaga saja. sepuluh menitan kami duduk santai melepas penat, kemudian perjalanan kami lanjutkan kembali menuju pos Ranu pani yang suuu dekat :D.



 

      Jam 15.30 kami sudah sampai di kantor polsek Ranu pani dan bertemu dengan Porter kami. beliau sudah menyerahkan sampah pendakian kami kepada pengelola TNBTS dan membuangnya di tempat sampah. beliau langsung pamit kepada saya karena harus membawa carrier pendaki yang sore itu mau ke Ranu Kumbolo. saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Porter dengan Memberikan upah Jasa nya sebesar Rp.400.000,-. si Bapak porter sangat baik hati, ntar kalo mau ke Semeru lagi mudah-mudahan si Bapak masih bisa ku sewa Jasanya. dan juga kalo bisa ke Semeru lagi, mau mengadakan Voluntouris di Sekolah Dasar Ranu Pani di dekat warung gorengan lapangan parkir Jeep Semeru.

Memetik Hikmah Pendakian

     Jadi, hikmah dari pendakian perdana ke Semeru walau ga sampai Puncak Mahameru, sangat luar biasa. pendakian pertama selalu membekas diingatan selamanya. banyak mengajarkan pelajaran tentang sabar. sabar untuk melalui tanjakan yang seakan tidak terputus. sabar menahan pegal dan letih. sabar agar terus melangkah dan sampai ke tujuan.
     Selama di awal pendakian dipenuhi rasa senang. tenaga masih ada dan motivasi juga masih tinggi. setelah beberapa jam perjalanan, tenaga mulai menurun, motivasi juga menurun drastis, seluruh otot tubuh lelah melawan gravitasi, mulailah rasa penyesalan muncul kenapa mau naik gunung. naik gunung itu capek! siapa bilang naik gunung menyenangkan? tau begini mending ke pantai. rasa capek bikin rasa senewen muncul. bayangan pikiran negatif mulai menghantui. teman yang ga sabar bakal ninggalin teman yang lambat bahkan memarahinya hingga muncullah perdebatan dan aksi tinggal teman di belakang. kelelahan memicu emosi. setelah melewati 2-4 jam pendakian membuat otot dan otak sangat lelah hingga sampai ke titik tidak peduli pokoknya sudah tak bisa balik maka teruskanlah sampai tujuan. tubuh pun serasa melayang melewati batas kemampuan. tujuan sudah di depan mata, tinggal sedikit lagi. teruslah berjuang hingga sampai di tujuan. tak perduli betapa sakitnya semua otot tubuh, seluruh pakaian basah oleh peluh dan hujan, malam yang gelap dan dingin seakan menghalangi. namun jika otak sudah terpaku pada satu tujuan maka, semua halangan dan rintangan dapat dilalui.
     Hidup seperti itu... konsisten untuk berjuang. setelah selesai mencapai satu tujuan maka bersiaplah untuk mencapai tujuan lain. hidup itu keras terkadang memberikan perlawanan. namun saat kau mengikhlaskan maka hidup akan memberikan kemudahan.
     Saya bukan filosofer...hanya saja setiap petualangan yang saya jalani, uang yang saya keluarkan selama berpetualang, haruslah menghasilkan pelajaran hidup yang bermakna bagi saya.
     Setiap petualangan akan saya tulis ceritanya sedetail mungkin dan seoriginal mungkin sesuai gaya bercerita saya.  kisah saya bukan untuk mengajari pembaca agar melakukan persis seperti yang saya lakukan dan pelajari. cerita ini saya tulis sebagai pengingat jika suatu hari nanti saya lupa dengan tujuan hidup saya, maka saya akan kembali ke sini untuk mengingat perjalanan hidup saya sebelumnya. apa yang sudah saya lalui dan pelajari serta apa yang saya cita-citakan.
     Oleh karena itu, kepada teman-teman saya yang memiliki hobi travelling, usahakan kalian mempunyai blog. tulislah walau hanya sedikit. ingatlah pelajaran apa yang kalian dapatkan selama ngetrip. sungguh sangat sayang jika suatu perjalanan hanya meninggalkan foto tanpa kisah yang diceritakan dan tanpa hikmah yang bisa diambil untuk kehidupan. jadi, jika suatu saat kalian merasa kehilangan arah, hidup menjadi susah, maka ingatlah masa -masa bahagia ketika kalian menjalani travelling.

sekian, kisah pendakian perdana saya.

     Saya bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kesempatan untuk melihat langsung keindahan ciptaan-NYA yang agung. Ranu Kumbolo & Oro-oro Ombo .
     Saya berterima kasih sebesar-besarnya kepada Yudistira arlangga putera yang setia menemani dari surabaya-Semeru-Surabaya lagi. first partner pendakian yang punya sabar luar biasa mengawal aku yang tiap 10-20 meter minta setop untuk mengatur napas :D.

    Saya juga berterima kasih kepada Solehudin al-ayubi dan 6 orang temannya yang menemani pendakian dari pos 2 hingga pos 4. dari meminjami headlamp, saling menunggu, berbagi cokelat, berbagi madurasa, bikinin teh panas, mencari jalur di kegelapan malam hingga akhirnya sampai di Ranu Kumbolo.


     Saya juga ucapkan terima Kasih Kepada Bapak Porter Lokal yang saya lupa menanyakan namanya, hanya fotonya saja yang saya abadikan. beliau sangat baik hati.
Bapak Porter yang sebelah kanan ujung.

     Semoga pendakian selanjutnya saya dipertemukan lagi dengan orang-orang baik seperti mereka #amin.

jangan lupa follow instagram @saverindo untuk mendapatkan info terupdate tentang pendakian Semeru .
untuk kalian yang ingin menginap di kota Malang, saya sangat merekomendasikan Mador (Malang Dorm Hostel), silahkan follow instagram Mador

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rute menuju Kepulauan Balabalagan

Trip SATEBO (Samarinda-Tenggarong-Bontang)