Pendakian Perdana dari 2100 mdpl ke 2460 mdpl.
first for a lifetime.
|
|
because its there...
|
hai girls!
no matter who you are, please, go hike the mountain!
saya memiliki hobi menikmati keindahan alam. tapi
jangan bayangkan saya akan tahan disuruh mendaki gunung yang tinggi, menembus
rawa, melewati semak berduri, bertemu binatang berbahaya di hutan. never
crossed in my mind!
punya stamina payah, karena hobi olahraga yang
satu-satunya dilakoni secara rutin adalah renang atau lebih tepatnya dynamic
apnea. selebihnya hanya jogging diantara mall dan toko buku di kota.
saya memiliki kekuatan terpendam yang hanya bisa keluar disaat sudah tak ada
pilihan. masuk ke hutan kalimantan, sangat mengerikan bagi yang punya phobia
pacet parah. jadi, keputusan untuk pergi mendaki ke Gunung Semeru adalah
impian yang sudah lama tertunda bertahun-tahun dan sekarang adalah waktu yang
tepat untuk mewujudkannya.
5-9 April 2017 menjadi waktu bersejarah dalam hidup, karena pendakian perdana
untuk menuju Semeru dimulai.
|
|
dari surabaya menuju Malang
|
5 april, mendarat cantik di Bandara Djuanda terminal 1. langsung menuju
Stasiun Gubeng untuk ke Malang.
6 april, pagi di rental ooutdoor walau diwarnai insiden dibikin nyasar masuk
ke 2 kampus gara-gara GPS!
Jam 9 pagi saat packing, hati diliputi keraguan luar
biasa karena tiba-tiba demam panggung untuk pendakian perdana. niat agar
sampai ke Puncak Semeru ga kenceng-kenceng amat, hanya yakin bisa sampai
Ranukumbolo saja sepertinya. tapi sudah terlambat untuk mundur, maju terus
pantang masuk jurang.
|
|
pemandangan indah di sepanjang jalur Tumpang Menuju Ranu Pani
|
Jalur malang ke tumpang juga tak luput dari nyasar akibat
GPS. sumpah deh, emosi aja bawaannya. tapi emosi kudu ditahan karena daki
gunung perlu energi ekstra. setelah mengisi perut di pasar Tumpang, saya
berdua dengan Yudi melanjutkan perjalanan bermotor ke desa Ranupani. tak perlu
diceritakan betapa nestapanya perjalanan pake motor matic dengan jalur
tanjakan curam di Ranupani.
Precaution buat para pendaki yang belum pernah ke
Semeru dan berniat bawa motor apalagi pake motor matic. mending GA USAH ding,
beneran! mending naik jeep atau truk sewaan deh, tinggal duduk cantik
menikmati pemandangan sambil menghemat tenaga untuk pendakian. kecelakaan di
jalur Gubuk Klakah hingga ke Ranupani didominasi oleh motor matic yang
mesinnya berasap, rem blong kemudian masuk jurang. intinya jangan bawa motor
yang ga kuat diajak tanjakan gunung yg sangat tinggi.
|
|
Kantor Polsek Ranu Pani dan Pos pendaftaran pendaki
|
|
| Danau Ranu Pani |
Sampai di Ranu pani ketika tengah hari. kami
langsung melakukan registrasi di pos pendakian di kantor polsek Ranupani.
hampir satu jam lebih kami menunggu Simaksi diadakan. kami digabung dengan
beberapa grup pendaki. yang paling sedikit grupnya cuma saya dan yudis. kami
hanya berdua dan ditemani seorang porter. saya udah kecapean karena perjalanan
sebelumnya membuat saya beberapa kali jalan kaki di tanjakan akibat motor yang
tidak kuat naik.
|
|
gerbang Jalur Pendakian watu rejeng
|
Walhasil, mending sewa jasa porter yang sampai Ranu
Kumbolo PP sebesar Rp.400.000,- 2 hari. carrier ku dipacking ulang oleh yudi,
kemudian diserahkan ke porter. setelah mendapat hampir 45 menit Simaksi oleh
petugas Saverindo yang bernama
Cak Yo, jam 03.00 sore kami memulai perjalanan bersama puluhan pendaki. kami
melalui jalur pendakian konvensional yaitu Watu Rejeng. dari pintu gerbang
jalur Watu Rejeng hingga ke Pos 1, sungguh tanjakan terus kaka... sempat di
awal perjalanan Pak Porter yang Baik hati itu mengingatkan agar aku jangan
terlalu cepat, santai saja jalannya katanya. hingga akhirnya beneran belum
apa-apa aku udah ngos-ngosan. sampai ga enak hati melihat Pak Porter yang
memanggul carrier berat mesti berhenti berkali-kali karena menunggu aku
beristirahat.
|
|
3/4 jalur di dominasi tanjakan... adek lelah Bang...
|
Sepanjang perjalanan yang terbayang adalah ucapan
Nyoth dan Mba Aji yang selalu mengingatkan agar beberapa waktu sebelum
pendakian ada baiknya melakukan latihan jogging. haishhh... ini dah akibat
ngeyel kalo dibilangin. tapi separah apapun tanjakan di depan, mesti maju
walau mesti dengan kecepatan siput. jalan 10-15 meter, kemudian berhenti 10
detik untuk menarik napas dan lanjutkan perjalanan lagi. Pak Porter pun
berpisah dari kami untuk melewati jalur khusus porter agar cepat sampai Ranu
kumbolo dan memasang tenda kami.
Wuihhhh tanjakannya makin mengerikan dan tiada
berkesudahan. lanjut ajalah pokoknya...sungguh sabar seorang sahabat bernama
Yudi yang menemaniku selama perjalanan pendakian perdana ku ini. kalo dia tipe
orang egois aja, aku bakal dimarah-marahin, dan pastinya ku dah balik arah dan
pulang ke pos Ranu Pani. dia selalu menguatkan dan terus memberi semangat
dalam bentuk harapan palsu, bahwa sebentar lagi ada dataran, ada turunan,
tanjakannya ga terlalu tinggi, diatas sana ada batang pohon untuk duduk
istirahat dan seterusnya. waahahahaha... hasikk.
|
| Pos 2 |
Tak terasa kegelapan mulai turun bersamaan
senja menyelimuti seluruh jalur pendakian. saat itu, kami bersamaan dengan 5
anak pendaki yang berjalan dengan sangat pelan. rupanya diantara mereka ada yg
mengalami cedera kaki, sehingga carrier besarnya mesti dioper ke temannya
untuk di panggul bergantian. disitulah pertama kalinya kami berkenalan dengan
Solehudin al ayubi cs. 5 anak pendaki dari Garut, jawa barat. bersama mereka,
aku dan yudi sampai di pos 2. baju sudah terasa basah oleh keringat. kami
sama-sama beristirahat meluruskan kaki. parahnya lagi, aku tak membawa
headlamp. hanya yudi yg membawa headlamp. padahal saat itu kegelapan sudah
menyelimuti seluruh jalur pendakian. kami bertujuh pun melanjutkan lagi
perjalanan. aku dipinjami headlamp oleh mereka. kami membuat barisan dengan
pembawa headlamp di depan, tengah dan belakang barisan. aku dan yudi disuruh
berjalan paling depan karena jalanku sangat lambat. setiap aku berhenti,
solehuddin cs pun ikut berhenti sambil bergantian mengoper 1 carrier yg dibawa
bergiliran 4 orang. sungguh terharu melihat kesetiakawanan mereka terhadap
teman yg memiliki keterbatasan.
|
| Pos 3 |
Malam semakin gelap pekat, hujan telah membuat
jalanan semakin licin. tanjakan sepertinya makin curam dan tiada ampun.
beberapa diantaranya hanya jalur selebar sebelah kaki dengan jurang menganga
di sebelah kiri. banyak batang pohon dan ranting bergelantungan diatas kepala
yang siap membuat kepala atau carrier tersangkut. belum lagi akar pohon atau
batang tumbang serta batu yang menyembul di jalanan. beruntungnya kami kompak.
yang berjalan di depan memperhatikan dengan seksama rintangan didepan sambil
memperingatkan yang di belakang. begitu pula yg ditengah barisan mengingatkan
yang berjalan dibelakangnya. akhirnya, sampai juga di pos 3 dengan tubuh
sangat kelelahan dan kedinginan akibat kebasahan. di pos 3 aku sudah duduk
berselunjur di sudut dinding pos.
Ampun dah, tubuh terasa ngilu karena kelelahan dan
kedinginan. teman-teman menawariku coki-coki. mereka pun mulai mengeluarkan
tranggia untuk membuat teh panas. aku sudah mengganti kaos tangan hiking
dengan kaos tangan bulu-bulu wol manjaah demi mengusir dingin, tapi tetap saja
tak mempan. jas hujan masih ku pakai karena gerimis masih turun. kaos kaki dan
sepatu sudah basah karena hujan sedangkan baju dan jaketku basah karena
keringat. dalam hati sudah memanjatkan doa semoga jangan kena hypothermia.
beruntung dikantong celana sudah disiapkan obat2an. tolak angin udah habis 2
bungkus untuk menghangatkan badan. minyak telon sudah digosok berulang-ulang
ke tangan dan badan. sayang sekali, lupa bawa salonpas untuk menghangatkan
hidung. baru tau kalo hidung sudah ga bisa menghangatkan udara yang masuk
saluran pernafasan berakibat sakit ke kepala. akhirnya setelah 5 menitan
tersudut di pos, disodori teh panas tanpa rasa gula hahaha... 1 gelas bekas
air mineral berisi teh digilir untuk minum bergantian. lumayan deh menambah
kehangatan tubuh. yang lain udah merapat di sekitar tranggia kecil untuk
menghangatkan diri sambil merebus air panas.
Di pos 3 segera setelah minum teh panas, kami pun
melanjutkan perjalanan. ternyata tubuh merasa lebih baik saat perjalanan
dilanjutkan daripada duduk diam di pos pendakian. perjalanan terasa lebih
ringan karena medan mulai datar walau harus berhati-hati ada bekas longsoran.
kami bertujuh berjalan beriringan sambil menyerukan keadaan jalan. satu jam
kemudian kami pun melihat Ranu Kumbolo. sungguh hati merasa bahagia. itu
artinya kami sudah hampir sampai. sejak pos 2 menuju pos 3, pikiran
sudah kacau karena merasa hampir tidak sanggup meneruskan perjalanan. di pos 3
menuju ke pos 4, langkah semakin cepat karena yang dibayangkan adalah tenda
yang hangat, pakaian kering, moccachinno panas dan mie rebus panas.
|
|
pos 4 bagaikan oase ditengah padang pasir
|
|
| Pos 4 |
Sudah sampai di pos 4, kami berisitirahat
sebentar kemudian melanjutkan perjalanan. dari pos 4 terlihat air Ranu Kumbolo
telah menggenangi jalur lama. sehingga kami harus menyusuri satu satunya jalur
yg jauh memutari lereng perbukitan di tepi Ranu Kumbolo. what ever lah, yang
penting cepat sampai... langkah kaki pun terasa seperti melayang, mumpung
jalur udah mulai turunan. namun satu turunan curam membuat kami ekstra
hati-hati. teman-teman bergantian membimbingku untuk menuruni jalur tanah liat
yang licin di dekat camping ground 1 di tepi Ranu Kumbolo. terlihat 2 tenda
gelap tanpa lampu. kami pun melewatinya dalam kegelapan malam sekitar jam
07.30.
Bukan hal yang mudah mencari jalur dari camping gound
1 menuju camping ground 2. kami harus melewati rumput yang sangat tinggi yang
terendam genangan air hampir selutut. sekali lagi kami menaiki lereng bukit
untuk mencapai camping ground 2 yang sulit terlihat. akhirnya setelah setengah
jam, kami pun sampai di pondok Shelter camping ground Ranu Kumbolo dengan
latar belakang Tanjakan cinta.
|
|
shelter 2 Ranu Kumbolo di dekat tanjakan cinta
|
Begitu sampai di pos shelter, kami disambut
bapak porter yang sudah memasangkan tenda di teras depan pos shelter. rupanya
banyak pendaki yang menginap di dalam pos shelter yang luas. didalamnya
terdapat dipan kayu yang luas untuk tidur berjamaah. banyak pendaki sudah
memasak ransum makanan mereka di dalam ruangan. di teras depan ada tenda kami.
di bangunan pos shelter yang lama juga ada tenda yang didirikan untuk
berlindung dari hembusan angin
Ucapan Syukur dalam hati tak henti-hentinya
dipanjatkan kepada Allah SWT. akhirnya aku sampai di ketinggian 2400 meter
diatas permukaan laut dengan dua kaki sendiri dan tentunya bantuan yudi dan
solehudin al ayubi cs. Pak Porter pun langsung menyuruh aku dan yudi mengganti
pakaian yang basah. beliau menyusun pakaian basah kami serta kaos kaki dan
sepatu di atas dinding pagar shelter. tak lupa jas hujan kami di gantungkan di
luar supaya basahnya berkurang. ketika aku sudah bertukar pakaian, Pak Porter
dengan sigap merebuskan air panas dan menyiapkan teh dan moccachinno. beliau
pun memasakkan mie rebus. kami menawari bapak untuk sama-sama makan. setelah
makan, tubuh pun terasa nyaman. betah duduk didalam tenda daripada di luar
yang dinginnya minta ampun.
Setelah selesai makan, Pak porter merapikan peralatan
makanan dan sampah logistik. kami pun mulai berisitirahat. sungguh hari yang
luar biasa capeknya tapi pemandangan yang dilihat memang setimpal. malam
kian larut, dingin semakin menusuk. hidung pun tak mampu menahan dingin. kumat
lagi sakit kepala parah lanjutan dari pos 3 tadi. padahal sudah pake sweater,
ditambah ponco rajut, celana levis, kaos kaki, matras, sleeping bag, topi
rajut dan sarung bali. kaki sudah dioles pake salep biar hangat dan tangan
serta hidung sudah diolesi minyak telon. sepanjang malam susah tidur, sebentar
bangun untuk memperbaiki posisi tidur sambil mendengar suara gemerisik
binatang kecil yang berlarian diantara tenda pendaki.
|
|
Ranu Kumbolo sangat dingin sekali
|
Jam 05.00 subuh pun tiba. sudah tak tahan ingin
keluar tenda melakukan gerakan-gerakan agar tubuh bisa menghangat. baru keluar
tenda, eh... masih gelap dan disambut rintik rintik hujan. wassalam...masuk
tenda lebih aman hahaha. Jam 06.00 cahaya pagi mulai menerangi Ranu Kumbolo
yang berselimut kabut dan awan. kami kurang beruntung karena cuaca mendung
menutupi arah timur Ranu Kumbolo. kami tidak bisa menyaksikan Sun Rise di Ranu
Kumbolo.
|
|
Sunrise Ranu Kumbolo yang tertutup kabut dan awan
|
|
|
after Sun Rise di Ranu Kumbolo
|
|
|
disini terdapat tanaman invasif Verbena
|
|
|
disini juga banyak photo both alami dengan background semak
bunga-bungaan
|
Hari beranjak terang kecantikan danau Ranu Kumbolo
terpancar. sungguh pemandangan spektakuler deh. awan dan kabut datang silih
berganti. suara angin berderu di kejauhan. permukaan danau sangat tenang
laksana cermin. semua pendaki mulai keluar dari persemayamannya. semua
asyik mengobrol dan berfoto ria di tepi danau. kami bertujuh sudah asik dengan
kegiatan foto-foto.
Aku dan yudi menelusuri jalan setapak sambil
menikmati pemandangan indah. jalurnya landai dan pemandangannya sangat indah.
bagi pendaki yang lagi ga ada target pencapaian menuju puncak, mending lewat
sini sih daripada melewati tanjakan cinta yang lumayan bikin nafas berantakan.
kami berdua sampai di puncak tanjakan cinta kami beristirahat sambil mengobrol
dengan pendaki lain yang sedang menggantung hammock sambil foto-foto. yudi
berkenalan dengan 2 pendaki cowo tersebut. mereka datang dari makassar. yudi
pun memanfaatkan kesempatan ikutan berfoto sambil berayun di hammock dengan
view tanjakan cinta dan ranu kumbolo.
Setelah yudi puas berfoto, kami melanjutkan trekking
menuju Oro-oro ombo. jalurnya wow, licin sekali karena sehabis hujan. bikin
nafas berantakan juga karena tanjakannya curam. tapi setelah sampai di atas
puncak tanjakan cinta... kami pun disambut dengan pemandangan spektakuler
oro-oro ombo. lembah indah yang didominasi warna hijau pepohonan dan savana
serta bunga Verbena Ungu.
Awan berarak dihembus angin yang berderu kencang.
cuma bisa berucap syukur dalam hati, terima kasih kepada Allah SWT telah
membimbingku kemari dan memperlihatkan keindahan ciptaan-NYA. kami menelusuri
jalur setapak yang menyisiri tepian padang bunga Verbena. kami berpapasan
dengan beberapa pendaki, kami pun saling lempar senyum dan sapa. setelah
sampai di tengah jalur setapak yang membelah hamparan bunga Verbena ungu,
kesempatan berfoto tak kami sia-siakan. langsung jeprat jepret disana kemari,
pake kamera digital yudi dan HP kami masing-masing. setelah didekati ternyata
tumbuhan Verbena cukup tinggi mencapai sekepala.
Setelah puas berfoto, berdiam menikmati kesunyian
Oro-oro ombo adalah hal yang menghapus segala kelelahan saat pendakian. enggan
rasanya pulang. tapi apa mau dikata, mendekati jam 11.00 kami harus segera
kembali ke Ranu Kumbolo untuk packing dan bersiap pulang. kami turun melewati
tanjakan cinta. banyak pendaki yang menaiki tanjakan cinta untuk menuju
kalimati dan kemudian summit. diantaranya ada yang menjalankan ritual mendaki
tanpa melihat kebelakang. ada yang terengah-engah di tengah tanjakan, ada juga
yang bersandar ke pohon sambil melepas lelah. kami menuruni tanjakan dengan
sangat berhati-hati. tanjakan licin sehabis terguyur hujan. kami menginjak
rerumputan sambil berpegangan di semak agar tidak tergelincir. sesekali kami
berhenti melepas lelah dan duduk di rerumputan sambil mengabadikan foto Ranu
Kumbolo dari tanjakan cinta.
Akhirnya sampai juga dibawah tanjakan dengan selamat.
lain kali view jalur alternatif selain tanjakan cinta lebih asyik untuk
dilalui karena sangat aman dengan view yang indah meski memakan waktu yg lebih
lama. begitu sampai shelter, kami sudah ditunggu porter dan kami pun sepakat
bersiap pulang. dengan sigap Pak porter menyusun semua peralatan. tenda
dilipat, peralatan masak, sampah, dan pakaian kotor sudah dimasukkan ke
carrier. kami pun berpisah dengan Pak Porter yang membawa carrier ku. beliau
melewati jalur khusus porter bersama temannya 1 orang yang juga sedang membawa
tas pendaki.
Aku dan yudi melanjutkan menyisiri tepian Ranu
Kumbolo dan pos Shelter di dekat Pos 4. melewati tanjakan curam, yang tinggi
dan sangat licin. terbersit rasa tak percaya kalo tanjakan ini bisa aku
turunin sambil di kegelapan malam. mantab jiwaaaaaa. ya amfun...setengah mati
naiknya, sambil dikawal naik oleh yudi, akhirnya sampai juga jalur datar
mendekati pos 4. sampai di pos 4, kami berfoto sebentar dengan latar belakang
Ranu Kumbolo dan pohon edelweiss yang cukup tinggi dan berbunga banyak.
perjalanan dilanjutkan menuju pos 3. jalanan asyik karena didominasi dataran
dan sedikit tanjakan. cihuyyyy... perjalanan sangat menyenangkan tidak seperti
saat pendakian pertama.
Dari pos 4 ke pos 3 tidak terasa lama. kami singgah
berisitirahat di pos 3. pos dengan kenangan memilukan hampir hypothermia
gegara kelelahan dan kehujanan sepanjang jalan.sepanjang jalan kami sempatkan
berfoto ria. kami bergantian berfoto serta tak luput segala tumbuhan unik di
jalur pendakian juga kami foto.
Sebelum mencapai pos 3, kami dicegat seorang pendaki
cowo yang seperti dikejar-kejar setan sambil menangis tersedu-sedu. dia
bertanya kepada kami berdua apakah kami bisa menyembuhkan temannya yang sedang
kesurupan. embuwhhh...aku dan yudi sama sekali tidak memiliki bakat
menyembuhkan kesurupan. kami tanya lebih jelas kejadiannya seperti apa.
ternyata dia bersama teman-temannya dari kalimati menuju Ranu Kumbolo untuk
pulang ke Ranu pani. temannya yang cewek ada yang menunjukkan keanehan.
badannya dingin dan mulai berbicara aneh. perjalanan masih bisa mereka
teruskan hingga ke Pos SHelter Ranu Kumbolo. mereka beristirahat sejenak
kemudian kembali melanjutkan perjalanan. begitu di pos 4 temannya yang cewek
itu sudah tidak sadarkan diri. jadilah teman-temannya menunggu di pos 4 dan si
cowok disuruh berlari turun ke pos untuk minta bantuan. kami orang pertama
yang ditemuinya di perjalanan turun.
Seingatku saat pendakian kemarin, pos 1 ada penduduk
lokal yang berjualan dan beberapa orang yang memakai kaos komunitas rescue.
jadi kami berdua menyarankan si cowok agar turun saja ke pos 1 dan berharap
semoga ada yang bisa membantu. kami berdua tidak bisa membantu dan juga
porterku yang bisa turun secepatnya ke Ranu pani melewati jalur yang berbeda
dengan kami. kami pun berpisah dengan pendaki cowok tersebut. aku benar-benar
khawatir, turun gunung dengan cara berlari seperti beresiko jatuh ke jurang
jika tidak hati-hati. semoga di perjalanan nanti, kami tidak menemukan dia
terjatuh di jurang, amin.
|
|
penanda jalur watu rejeng
|
|
| pos 2 |
Tiba di pos 2, ternyata ada ibu-ibu penduduk lokal
yang sedang menyalakan perapian dan membuka warung gorengan. hal yang
membahagiakan karena sehari sebelumnya masih belum ada. kami pun
berisitirahat. yudi membeli gorengan ibu dan aku makan coklat sambil melepas
dahaga. kami bertanya kepada ibu apakah ada pendaki cowok yang seperti sedang
berlari singgah di warung ibu, ternyata ibunya bilang ada. syukurlah ... tapi
si ibu bilang juga tidak bisa membantu. sepengetahuannya didaerah sekitar sini
tidak ada yang bisa menyembuhkan kesurupan.
Setelah bercakap-cakap, kami pun pamit
kepada ibu penjual horengan untuk melanjutkan perjalanan ke pos 1. disini
jalur nya lumayan jauh. lebih jauh daripada antar jalur pos 3 ke pos 2.
berhubung jalur disini saat berangkat banyak tanjakan, setelah perjalanan
pulang jadinya banyak turunan, yihhaaaa...asek aseek josss... kami jarang
berhenti. sesekali aku mendengar lantunan tembang jawa selama berjalan.
pikirku ada penduduk lokal yang sedang berkebun sambil menyetel musik.
walaupun melihat di sekitar jalur tidak ada kebun dan pondok warga. ku usir
pikiran menakutkan, sambil membaca zikir, ayat kursi dan surah
almuwizzatain(al-ikhlas, Al-Falaq dan An-nas) agar setan yang menyebabkan
pendaki kesurupan tidak mengganggu kami. parno gapapa, daripada beneran
kesurupan, masa' salah satu dari kami mesti sprint turun gunung minta
pertolongan, minta ampun dah.
Oke sip, jalan-jalan santai menikmati turunan hingga
tak terasa sudah sampai di Pos 1. di pos 1 ada beberapa pendaki yang
sepertinya berasal dari malaysia. mereka memakai baju komunitas. ada penduduk
lokal yang juga menawarkan gorengan dan semangka. aku sama sekali ga berminat
untuk makan, hanya ingin minum melepas dahaga saja. sepuluh menitan kami duduk
santai melepas penat, kemudian perjalanan kami lanjutkan kembali menuju pos
Ranu pani yang suuu dekat :D.
Jam 15.30 kami sudah sampai di kantor polsek
Ranu pani dan bertemu dengan Porter kami. beliau sudah menyerahkan sampah
pendakian kami kepada pengelola TNBTS dan membuangnya di tempat sampah. beliau
langsung pamit kepada saya karena harus membawa carrier pendaki yang sore itu
mau ke Ranu Kumbolo. saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Porter dengan
Memberikan upah Jasa nya sebesar Rp.400.000,-. si Bapak porter sangat baik
hati, ntar kalo mau ke Semeru lagi mudah-mudahan si Bapak masih bisa ku sewa
Jasanya. dan juga kalo bisa ke Semeru lagi, mau mengadakan Voluntouris di
Sekolah Dasar Ranu Pani di dekat warung gorengan lapangan parkir Jeep
Semeru.
Memetik Hikmah Pendakian
Jadi, hikmah dari pendakian perdana ke Semeru walau
ga sampai Puncak Mahameru, sangat luar biasa. pendakian pertama selalu
membekas diingatan selamanya. banyak mengajarkan pelajaran tentang sabar.
sabar untuk melalui tanjakan yang seakan tidak terputus. sabar menahan pegal
dan letih. sabar agar terus melangkah dan sampai ke tujuan.
Selama di awal pendakian dipenuhi rasa senang. tenaga
masih ada dan motivasi juga masih tinggi. setelah beberapa jam perjalanan,
tenaga mulai menurun, motivasi juga menurun drastis, seluruh otot tubuh lelah
melawan gravitasi, mulailah rasa penyesalan muncul kenapa mau naik gunung.
naik gunung itu capek! siapa bilang naik gunung menyenangkan? tau begini
mending ke pantai. rasa capek bikin rasa senewen muncul. bayangan pikiran
negatif mulai menghantui. teman yang ga sabar bakal ninggalin teman yang
lambat bahkan memarahinya hingga muncullah perdebatan dan aksi tinggal teman
di belakang. kelelahan memicu emosi. setelah melewati 2-4 jam pendakian
membuat otot dan otak sangat lelah hingga sampai ke titik tidak peduli
pokoknya sudah tak bisa balik maka teruskanlah sampai tujuan. tubuh pun serasa
melayang melewati batas kemampuan. tujuan sudah di depan mata, tinggal sedikit
lagi. teruslah berjuang hingga sampai di tujuan. tak perduli betapa sakitnya
semua otot tubuh, seluruh pakaian basah oleh peluh dan hujan, malam yang gelap
dan dingin seakan menghalangi. namun jika otak sudah terpaku pada satu tujuan
maka, semua halangan dan rintangan dapat dilalui.
Hidup seperti itu... konsisten untuk berjuang.
setelah selesai mencapai satu tujuan maka bersiaplah untuk mencapai tujuan
lain. hidup itu keras terkadang memberikan perlawanan. namun saat kau
mengikhlaskan maka hidup akan memberikan kemudahan.
Saya bukan filosofer...hanya saja setiap petualangan
yang saya jalani, uang yang saya keluarkan selama berpetualang, haruslah
menghasilkan pelajaran hidup yang bermakna bagi saya.
Setiap petualangan akan saya tulis ceritanya sedetail
mungkin dan seoriginal mungkin sesuai gaya bercerita saya. kisah saya
bukan untuk mengajari pembaca agar melakukan persis seperti yang saya lakukan
dan pelajari. cerita ini saya tulis sebagai pengingat jika suatu hari nanti
saya lupa dengan tujuan hidup saya, maka saya akan kembali ke sini untuk
mengingat perjalanan hidup saya sebelumnya. apa yang sudah saya lalui dan
pelajari serta apa yang saya cita-citakan.
Oleh karena itu, kepada teman-teman saya yang
memiliki hobi travelling, usahakan kalian mempunyai blog. tulislah walau hanya
sedikit. ingatlah pelajaran apa yang kalian dapatkan selama ngetrip. sungguh
sangat sayang jika suatu perjalanan hanya meninggalkan foto tanpa kisah yang
diceritakan dan tanpa hikmah yang bisa diambil untuk kehidupan. jadi, jika
suatu saat kalian merasa kehilangan arah, hidup menjadi susah, maka ingatlah
masa -masa bahagia ketika kalian menjalani travelling.
sekian, kisah pendakian perdana saya.
Saya bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan
kesempatan untuk melihat langsung keindahan ciptaan-NYA yang agung. Ranu
Kumbolo & Oro-oro Ombo .
Saya berterima kasih sebesar-besarnya kepada
Yudistira arlangga putera yang setia menemani dari surabaya-Semeru-Surabaya
lagi. first partner pendakian yang punya sabar luar biasa mengawal aku yang
tiap 10-20 meter minta setop untuk mengatur napas :D.
Saya juga berterima kasih kepada Solehudin al-ayubi dan 6
orang temannya yang menemani pendakian dari pos 2 hingga pos 4. dari meminjami
headlamp, saling menunggu, berbagi cokelat, berbagi madurasa, bikinin teh
panas, mencari jalur di kegelapan malam hingga akhirnya sampai di Ranu
Kumbolo.
Saya juga ucapkan terima Kasih Kepada Bapak Porter
Lokal yang saya lupa menanyakan namanya, hanya fotonya saja yang saya
abadikan. beliau sangat baik hati.
|
|
Bapak Porter yang sebelah kanan ujung.
|
Semoga pendakian selanjutnya saya dipertemukan lagi
dengan orang-orang baik seperti mereka #amin.
jangan lupa follow instagram
@saverindo
untuk mendapatkan info terupdate tentang pendakian Semeru .
untuk kalian yang ingin menginap di kota Malang, saya sangat merekomendasikan
Mador (Malang Dorm Hostel), silahkan follow instagram
Mador